tvOne Newsticker
Jumat, 3 September 2010

Kabar Hukum

Patrialis Akbar: Selidiki Dugaan Pelecehan Seks di LP Cipinang

Jumat, 30 Juli 2010 15:35 WIB

patrialis akbar

Jakarta (tvOne)

Kisah pengaduan belasan anak laki-laki yang mengaku dicabuli seorang dokter spesialis anak penghuni LP Cipinang rupanya menggugah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar.

 Patrialis yang mantan pengacara itu menyatakan telah meminta jajarannya untuk segera merespon laporan yang dinilai bisa membawa aib bagi upaya pembinaan napi etrsebut. “Saya sudah perintahkan Kakanwil DKI menyelidiki tuntas,” ujar Patrialis  sesaat sebelum beranjak mengikuti rapat kabinet di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (29/7).

Sebelumnya, Rabu kemarin 15 anak yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual menuntut keadilan dengan menggelar aksi demo di kantor Kanwil Kemenkumham DKI dan kantor Kemenkumham di Jalan Rasuna Said Jakarta. Jumat ini giliran mereka mengadukan nasibnya ke KPAI.

 Mereka menuntut pertanggungjawaban terpidana RS yang dilaporkannya telah melakukan pelecehan di dalam Lapas Cipinang, serta meminta Kepala Lapas kelas 1 Cipinang memperketat pengawasan kepada narapidana.

Saat melakukan aksi unjuk rasa itu, Fery (19), salah satu korban mengatakan, peristiwa yang menimpa dirinya terjadi pada 2006 saat ia berusia 15 tahun. Ia mengenal terpidana dari Armal tetangganya di Kerinci, Jambi. “Saya lalu ditelepon terpidana, diiming-imingi agar bisa cepat pintar dan mendapat pekerjaan. Saya diminta datang ke Jakarta,” ujarnya.

Sebelumnya, ungkap Fery, ia disuruh membawa kembang tujuh rupa dan air tujuh dusun serta jeruk limau. Setibanya di Jakarta, ia menuju LP Cipinang pada sore hari dengan ditemani Armal guna menemui terpidana. "Saya masuk ke sebuah ruang di dalam Lapas, ada meja dan tempat tidur untuk pemeriksaan. Saya disuruh buka seluruh baju, terpidana meraba-raba seluruh tubuh saya," ujarnya seperti dikutip Antara.

Sementara Armal membenarkan cerita Fery. Ia yang pernah satu sel dengan RS bahkan mengaku telah mencari puluhan anak atas suruhan napi RS. Selain dia, ada juga orang lain yang disuruh mencari ABG. “Saya juga korban,” ujar Armal.

Sebelum ke kantor Kemenkumham, pekan lalu dengan didampingi Koalisi Pedili Anak (KPA) telah melaporkan pula ke Polda Metro Jaya dan ke Komnas Perlindungan Anak. Sementara itu, Ganto dari Koalisi Peduli Anak yang mendampingi para korban tersebut mengatakan bahwa perbuatan terpidana yang leluasa melecehkan anak-anak di bawah umur di dalam Lapas, membuktikan betapa lemahnya pengawasan di LP kelas 1 Cipinang. “Pantas saja Edi Tanzil bisa kabur dari LP Cipinang,” ujarnya.

Menurut dia, praktik diskriminasi narapidana di Lapas Cipinang bukan rahasia umum lagi seperti ada narapidana yang bisa memiliki handphone, mengakses internet, televisi, bahkan AC seperti Artalyta.

Sementara itu Kepala LP kelas 1 Cipinang Wayan Sukarta membantah fakta-fakta yang telah dipaparkan para ABG korban pelecehan narapidana Rudi Sutadi. "Terpidana itu bukan dokter klinik LP, dia cuma bantu-bantu saja. Dia tidak memeriksa pasien," ujarnya seraya menjelaskan bahwa klinik LP Cipinang itu setiap hari menerima puluhan pasien sehingga sulit untuk melakukan pelecehan sebagaimana dituduhkan tersebut. (ant, am).

 

 

am
Bookmark and Share
Komentar Kabar
Kirim Komentar